Kesempatan Kedua Chapter 12

Luffy mengikutinya melalui jalan-jalan ke rumah yang ditinggalkan. Ketika dia mulai membuatkannya makanan, dia menatap nami dari atas ke bawah. Wajahnya memerah kemudian dia tersenyum. Dia menarik topinya lagi untuk menyembunyikan wajahnya ketika Nami kembali.

 

“Ini.” kata Namisambil dia meletakkan makanan di depannya, yang segera dia makan saat dia bisa mengendalikan dirinya kembali. Nami hanya menatap Luffy ketika dia bertanya-tanya bagaimana dia akan mendapatkan harta Buggy.

 

“Orang-orang itu sepertinya mengejarmu karena suatu alasan.” Kata Luffy sambil menatapnya. “Apa yang kau lakukan?”

 

“Aku mengambil peta mereka.” katanya sambil menarik peta dari bawah kemejanya. “Dengan ini, aku bisa mendapatkan 100.000.000 berris dengan mudah.”

 

“Itu uang yang banyak.” Kata Luffy sambil bersiul. Dia pernah mendengar bahwa itu adalah uang untuk membeli kembali desanya dari Arlong. Luffy mengerutkan keningnya ketika dia mengingatnya Nami menangis jalan tanah itu, menikam tato tanda Arlong setelah warga desanya pergi untuk melawan arlong, tahu itu bahwa usahanya sia-sia, tetapi tidak bisa tahan lagi dengannya. “Kenapa kau memerlukan sebanyak itu?”

 

“Bukan urusanmu.” katanya dengan suara dingin. “Sekarang aku memiliki map ke Grand Line, dengan ini mengumpulkan uang akan lebih mudah.” Kata Nami.

 

“Grand Line?” Luffy bertanya dengan terkejut palsu. “Kau seorang navigator?”

 

“Bukannya sombong, tapi aku adalah navigator terbaik yang akan kau temukan.” katanya dengan senyum kecil.

 

“Keren. Kau harus bergabung dengan kru-ku.”

 

“Tidak!” katanya dengan nada kasar. “Aku membenci bajak laut.” Luffy tahu dari mana kemarahannya berasal, tetapi dia tidak akan menyerah.

 

“Kenapa tidak? Kehidupan bajak laut itu menyenangkan.” kata Luffy sambil tersenyum.

 

“Bajak laut hanyalah monster tak berperasaan yang mengambil semua hal berharga milik orang lain. Aku hanya mencintai uang dan jeruk.” dia berkata. Mata Luffy tertutup oleh topinya ketika dia memandang ke arahnya.

 

“Bajak laut adalah monster tak berperasaan huh?”

 

“Betul.”

 

“Lalu mengapa bajak laut yang datang ke kota asalku bertahun-tahun lalu mempertaruhkan nyawanya dan mengorbankan lengan kirinya agar aku bisa hidup?” Luffy bertanya, bertanya-tanya apa akan Nami katakan tentang itu. Luffy menatapnya dan melihat matanya sedikit melebar. Hal ini mengejutkannya ketika mendengar bajak laut mengambil risiko sangat besar untuk orang lain.

 

“Seorang bajak laut … melakukan itu?” dia bertanya dengan suara pelan.

 

“Ya.” Luffy menjawab sambil melepas topinya untuk melihatnya dengan rasa sayang. Dia kemudian menjelaskan janjinya kepada Shanks tentang bagaimana dia akan mengembalikan topi yang diberikan Shanks setelah dia menjadi Raja Bajak Laut.

 

“Hmph. Lihat siapa yang beruntung.” katanya ketika dia berjalan dan melihat ke luar jendela. Dia tidak bisa membayangkannya. Seorang bajak laut, seseorang yang merampas dan membunuh siapa saja yang mereka temui, mempertaruhkan hidup mereka untuk orang asing?

 

“Apa sesuatu terjadi padamu?” Luffy tiba-tiba bertanya padanya, menariknya keluar dari pikirannya. Nami menegang saat dia melihat kembali padanya, tidak melihat apa-apa selain wajah kosong yang melihat ke arah luffy. Tangannya perlahan mengarah ke bahunya, yang ditutupi oleh kemejanya untuk menyembunyikan tato tanda Arlong itu. Nami tidak tahu apa itu karena Luffy, tetapi pada saat itu, ketegangannya sedikit memudar ketika dia melihat ke bawah.

 

“Aku lebih suka tidak membicarakannya.” katanya dengan suara sedih. Nami menghela nafas saat dia menatap keluar jendela. bayangan Bellemere datang kepadanya saat dia menutup matanya. Dia ingat bagaimana mereka miskin, bagaimana mereka akan bertarung, bagaimana dia mulai mencuri karena mereka tidak punya uang. Nami mulai menangis ketika dia juga ingat perjuangan mereka, bagaimana dia melarikan diri dalam kemarahan, bagaimana ibunya mengorbankan dirinya sehingga dia dan Nojiko bisa hidup. Dia mencengkeram bahunya ketika ingatan saat Arlong memaksanya ke untuk menggambar peta, bersama dengan kesepakatan untuk melepaskan desanya dengan imbalan 100.000.000 berris. Dia sangat merindukan ibunya.

 

“Nami.” Luffy berkata dengan suara pelan. Nami menoleh dan melihat bahwa dia berdiri di sebelahnya. Topinya membayangi wajahnya, tetapi dia masih bisa mendengar nada sedih di suaranya ketika Luffy melanjutkan. “Percaya atau tidak, aku juga tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang kau sayangi.”

 

“Apa?” dia bertanya ketika Luffy membuka beberapa kancing di rompinya. Dia membuka rompinya, dan mata Nami melebar. Dia melihat bekas luka berbentuk X bergerigi di dadanya.

 

“Dulu, aku bertemu dengan seseorang yang sangat kuat, dan dia membunuh seseorang yang aku kenal.” Luffy berkata. “Dia mencoba membunuhku juga, tapi aku berhasil selamat berkat bantuan seseorang, tetapi tidak sebelum orang itu meninggalkanku dengan ini.” katanya sambil menunjuk bekas lukanya. Luffy tidak menceritakan bagian tentang siapa yang mati dan siapa pembunuhnya, tetapi Luffy ingin membiarkan Nami tahu bahwa dia berbagi rasa sakit kehilangan seseorang. Tapi Luffy tahu dia akan membuat Ace tetap hidup kali ini, tetapi ingatan akan hal itu tidak akan pernah meninggalkannya.

 

Nami menatap bekas lukanya, tidak percaya bahwa Luffy mengalami sesuatu yang sangat mirip dengan masa lalunya yang menyedihkan. Nami melihat ke bahunya sendiri ketika Luffy mengancingkan rompinya kembali dan duduk di sebelahnya. Nami kemudian melihat keluar jendela lagi ketika dia mendengar beberapa bajak laut berbicara tentang menemukan dia dan harus mendapatkan peta kembali.

 

“Hei, kau bilang kau ingin mendapatkan 100.000.000 berris, kan?”

 

“Iya…kenapa?” tanya Nama, penasaran dengan apa yang di pikirkan pria ini.

 

“Bagaimana kalau begini? Jika aku membantumu mendapatkan uang, kau harus membantuku pergi ke Grand Line. Deal?” katanya, mengulurkan tangannya. Nami memandangnya seolah dia gila, tapi dia ingat dengan bekas lukanya dan hanya menghela nafas.

 

“Aku tidak akan menjadi bajak laut.” katanya sebelum memukul tangan Luffy dengan tangannya. “Tapi aku akan membantumu untuk sementara waktu.” katanya dengan senyum kecil. Luffy hanya tersenyum ketika Nami mendapat ide. “Dan aku tahu rencana sempurna untuk mencuri harta Buggy.” katanya sambil menarik tali entah dari mana. “Aku hanya memerlukan mu tidak bergerak.”

 

() () () ()

 

“Apa maksudmu kau tidak bisa menangkap pencuri itu ?!” Buggy berteriak pada tiga perompak yang dikalahkan Luffy sebelumnya.

 

“Bosnya datang entah dari mana dan-“

 

“AKU TIDAK PEDULI! KALIAN MATI KARENA INI!” Buggy menjerit, menakuti ketiga perompak tadi.

 

“Kapten, pencuri itu ada di sini dengan petanya.” kata seorang kru Buggy.

 

“Baiklah, bawa dia ke sini. Tunggu, APA ?!” Buggy berkata, bingung saat Nami berjalan ke arahnya dengan Luffy yang terikat. Ketika mereka sudah cukup dekat, Nami menendang Luffy dan kemudian jatuh di kaki Buggy.

 

“Aku telah menangkap pencuri yang asli, Kapten Buggy. Ini petanya.” Nami berkata sambil mengembalikan Map.

 

“Aku menghargai usahamu untuk mengembalikan Map ku, tetapi mengapa tiba-tiba berubah pikiran?” Buggy bertanya dengan bingung.

 

“Bosku hanyalah seorang idiot, jadi kupikir aku lebih baik bekerja untukmu.” kata Nami dengan nada senang.

 

“Hei, lepaskan! Ini bukan milikmu, bodoh!” teriak salah satu bajak laut. Semua orang menoleh dan melihat Luffy sekarang sedang mencoba untuk mengambil sepotong daging dari salah satu kru Buggy dengan giginya. Sebagian besar kru, termasuk Nami, berkeringat (sweatdrop) saat melihat kejadian ini. Buggy, namun, tertawa terbahak-bahak.

 

“Tidak heran kau muak dengannya. DIA memang idiot.” Buggy tertawa sebelum berbalik ke Nami. “Aku suka gayamu, wanita. Kau sekarang di kru-ku. ANAK-ANAK! WAKTUNYA UNTUK PARTYYYY!”

 

Semua orang bersorak dan mulai merayakan bergabungnya kru baru, sementara Luffy dilemparkan ke dalam kandang besi.

 

[Sebelumnya] [Daftar isi] [Selanjutnya]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *