Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua Chapter 13

“Siapa namamu wanita?” Buggy bertanya.

 

“Aku Nami.”

 

“Semuanya! Bersulang untuk anggota baru kita, Nami!” Buggy berkata sambil mengangkat gelas. Semua orang ikut mengangkat gelas seperti kapten mereka dan Nami juga mengikuti mereka, sebelum kembali berpesta. Nami menenggak minumannya saat dia memandangi para perompak.

 

‘Baik. Semuanya berjalan sesuai rencana. ‘ pikirnya sambil mengelap mulutnya. ‘Setelah mereka semua pingsan, aku akan mencuri map, harta mereka, dan mengeluarkan Luffy dari sini.’

 

Ketika Nami sedang minum, Luffy mencoba untuk memelarkan lengannya tanpa diketahui ke arah prasmanan yang ada di atas meja, tetapi meleser lagi seperti sebelumnya. “Sial. Aku lapar.” gerutunya.

 

“Ini.” kata Nami sambil menaruh makanan di sebelah Luffy ketika yang lain tidak melihat.

 

“Terima kasih.” Kata Luffy saat dia mulai makan. Ketika dia mengunyah, Luffy berbisik, “Sepertinya rencanamu berhasil, Nami.”

 

“Ssst.” Nami berbisik. “Kau akan menghancurkan penyamaranku.”

 

“Makanan untuk musuh, Nami?” datang suara Buggy. Nami berbalik dan melihat Buggy berdiri di belakangnya dengan tangan di silangkan pada dadanya.

 

“Hanya … hadiah perpisahan untuk mengucapkan selamat tinggal.” Nami dengan cepat berbohong, berharap Buggy tidak akan menyerang. Sebaliknya, dia hanya tersenyum sambil mengangkat alis.

 

“Hadiah perpisahan huh?” Buggy bertanya. “Kalau begitu aku juga akan memberinya hadiah perpisahan.” Dia kemudian memerintahkan anak buahnya untuk mengeluarkan Buggy Ball-nya. Dengan cepat, beberapa perompak mengeluarkan meriam besar sementara yang lain mengambil bola meriam merah besar dengan Jolly Roger Buggy di bola itu. Mereka kemudian mengarahkan meriam yang sudah terisi ke kota. “Aku akan memperagakan kekuatanku. TEMBAKKK”

 

Ketika sumbu terbakar habis, meriam itu menembak, mengirim Bola Buggy melalui deretan rumah, menghancurkan mereka semua secara instan. Ketika asap mulai hilang, yang tersisa hanyalah sederet puing-puing. Semua bajak laut menertawakan pemandangan itu.

 

“Bagaimana menurutmu? Dengan Bom Buggy ini dan kekuatan buah Iblisku, aku akan menguasai Grand Line!” Buggy berteriak, menyebabkan anak buahnya bersorak. Nami hanya menatap pemandangan itu, merasa muak melihatnya. Luffy hanya menatap Buggy.

 

“Tapi aku yang akan menguasai Grand Line.” Luffy berkata. Semua orang hanya menatap ketika dia terus melanjutkan. “Karena aku akan menjadi Raja Bajak Laut!”

 

“Apakah kau mencoba membuatnya kesal ?!” Teriak Nami.

 

“Tidak heran kau muak padanya Nami. boys, siapkan meriam itu lagi!” Buggy berteriak. Pasukannya menyiapkan meriam dengan Bola Buggy lain, lalu mengarahkannya langsung ke Luffy. “Sekarang untuk hadiah perpisahan KU. Ini Nami.” kata Buggy sambil memberi Nami sekotak korek api. “Untuk membuktikan kesetiaanmu, aku akan memberimu kehormatan untuk meledakkan Bos mu.”

 

Nami hanya melihat kotak korek api itu dengan ngeri. “A-ayolah Kapten. Tidak perlu untuk melakukan ini. Mari kita pergi berpesta.” katanya dengan nada gugup.

 

“Lakukan, Nami.” kata Buggy dengan nada mengancam, tidak meninggalkan ruang untuk berdebat. Semua perompak bersorak agar Nami menyalakan meriam. Tangannya gemetaran saat dia menatap Luffy.

 

“Cepatlah Nami! Bunuh dia sekarang!” Buggy berteriak, yang diikuti oleh krunya.

 

“Kau bergemetar Nami.” Luffy berkata. “Inilah yang terjadi ketika kau menghadapi bajak laut dengan tekad yang lemah.”

 

“Apa?” tanya Nami, sekarang menatap wajah Luffy dan melihatnya tersenyum. “Untuk membunuh seseorang seakan-akan itu bukan apa-apa?”

 

“Bukan. Tapi bersedia mempertaruhkan nyawamu sendiri.” kata Luffy dengan ekspresi bertekad di wajahnya. Nami hanya menatap Luffy, terkejut dengan jawabannya. Luffy kemudian menatap tepat ke matanya dan berkata, “Lakukan, Nami.”

 

“A-apa?” Nami bertanya, berpikir dia salah dengar.

 

“Nyalakan meriam itu Nami.”kata Luffy. Mata Nami membelalak atas permintaannya, mengira dia sudah gila. Dia tidak bisa percaya, tapi Luffy memintanya untuk membunuhnya. Luffy kemudian tersenyum lembut padanya ketika dia berkata, “Percayalah padaku. aku akan baik-baik saja.” Nami tampak siap berteriak padanya, tetapi sikap Luffy yang tenang sepertinya juga ikut menenangkannya. Dia perlahan menyalakan korek api, menatap Luffy seolah berharap dia akan berubah pikiran. Luffy mengangguk, menyuruhnya melakukannya. Nami gemetar lagi saat dia membawa korek api yang sudah menyala lebih dekat ke sumbu.

 

‘Aku tidak tahu mengapa aku melakukan ini!’ Nami berteriak di dalam hatinya ketika sumbu menyala. ‘Aku percaya padamu Luffy. Aku hanya berharap kau benar tentang ini! ‘ Nami kemudian berbalik, menutupi telinganya sambil menutup matanya.

 

“Hei! Apa yang kalian semua lakukan ?!” terdengar suara dari ujung atap. Semua orang memandang melihat seorang pria berambut hijau dengan tiga pedang muncul.

 

“Oh. Hei Zor-“

 

BOOOM!

 

Meriam itu meledak dengan cahaya yang menyilaukan, menerbangkan segala yang ada di depannya.

 

“LUFFY!” Teriak Zoro sambil menatap pemandangan itu. Dia kemudian memperhatikan Nami di dekat meriam dengan kotak korek api. Zoro meraih pedangnya saat dia bersiap dalam posisi menyerang. “YOU BITCH!” dia berteriak.

 

Nami tidak mendengar Zoro saat dia perlahan melihat kembali ke tempat meriam itu ditembakkan. Dia memiliki ekspresi ngeri di wajahnya ketika kotak korek api tadi terlepas dari tangannya. Dia seperti membeku di tempat.

 

“HAHAHAHA!” Buggy tertawa bersama krunya. “Jadi namanya Luffy huh? Nah, sekarang kita tahu apa yang harus kita ditulis di batu nisannya!” katanya sambil tertawa lagi.

 

‘Apa yang telah aku lakukan?’ Nami berpikir ketika dia merasa ingin menangis. Dia menatap asap yang tersisa dari ledakan itu. Nami mulai gemetar lagi berpikir dia sudah membunuh seseorang.

 

“UHUK UHUK! Sial bola meriam itu cukup kuat!” terdengar suara dari dalam asap. Semua orang langsung berhenti tertawa ketika mereka mendengar suara itu. Mata Nami melebar bersamaan dengan mata Zoro saat mereka semua melihat, ketika asap mulai menghilang. Rahang semua orang jatuh ketika mereka melihat Luffy berdiri di sana, tidak tergores sedikitpun. “Shishishishi.” Semua yang ada di sekitar mereka tampak membeku ketika semua menatap Luffy. Dia melihat ekspresi semua orang. “Apa?”

 

“BAGAIMANA MUNGKIN KAU MASIH HIDUP?!” mereka semua berteriak dengan kekuatan yang cukup untuk menjatuhkan Luffy sampai terduduk.

 

“BUGGY BALL ITU MENGENAIMU DI JARAK DEKAT, TAPI KAU SELAMAT TANPA LUKA SEDIKITPUN?!” Buggy menjerit dengan mata merah. Luffy menatapnya sebelum meletakkan tangannya ke dagunya.

 

“Hmmm. Mungkin karena … bola Buggy itu lemah?” dia bertanya, tertawa di dalam hatinya karena melihat reaksi semua orang.

 

“Apakah aku … melewatkan sesuatu?” Zoro bertanya setelah sadar dari rasa kagetnya.

 

“Tidak juga.” Luffy menjawab. “Anyway, kita harus pergi Zoro.” kata Luffy sebelum dia meraih lengan Nami dan berlari. “Selamat tinggal, Hidung Besar!” Luffy berteriak sambil menendang meriam Buggy tepat ke arahnya. Buggy menjerit saat melihat bola meriamnya terbang ke arahnya, memberi mereka bertiga waktu yang di butuhkan untuk melarikan diri.

 

[Sebelumnya] [Daftar isi] [Selanjutnya]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *