Kesempatan Kedua Chapter 14

Setelah beberapa saat berlari, mereka bertiga beristirahat. Luffy tertawa, sementara Zoro hanya berbaring di tanah, merasa lelah karena sudah mendayung dan berlarian berusaha menemukan Luffy kemudian melarikan diri. Nami berdiri diam, sangat tenang dengan poninya menutupi matanya.

 

“Sepertinya kita berhasil lolos, teman-teman.” Luffy berkata sambil melihat teman-temannya. Senyumnya memudar ketika dia melihat Nami. “Nami? Kau baik-baik saja?” Dia bertanya. Nami hanya berdiri gemetaran di sana dari ujung kepala sampai ujung kaki.

 

Luffy semakin dekat, bertanya-tanya apa ada yang salah. Dia berada satu kaki jauhnya sebelum Nami menatapnya dengan amarah di matanya dan Nami memukulnya, memukul kepalanya  sampai melewati jalan batu.

 

“KAU BRENGSEK! APAKAH KAU SADAR APA YANG BARU SAJA KAU PERBUAT PADAKU?” Nami berteriak sebelum Menarik rompi yang digunakan Luffy dan mulai mengguncang-guncangnya dengan keras.

 

“AKU BENAR-BENAR BERPIKIR KALAU KAU MATI! ORANG MACAM APA YANG MENYURUH ORANG LAIN UNTUK MENEMBAK MEREKA DENGAN MERIAM ?!” Nami berteriak. Dia sekarang terengah-engah, berusaha mengatur napas ketika Luffy tergantung lemas dari tangannya sebelum menatapnya dan tersenyum.

 

“Mengapa kau marah? Meriam itu meledakkan kandang dan membakar tali tempat aku dikurung, bukan?” Kata Luffy, seolah semua yang terjadi bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Nami hanya menatapnya, tampak siap untuk memukulnya lagi. Luffy kemudian tersenyum ketika dia berkata, “Sudah kubilang, percaya saja padaku.” Nami tampak tenang dan membiarkannya jatuh terbaring di tanah.

 

“Aku tidak percaya kau masih hidup setelah melalui itu.” kata Nami sebelum menghela nafas. Senyuman kecil kembali ke wajahnya setelah itu. “Tapi aku senang kau hidup Luffy.”

 

“Jadi Luffy, siapa sebenarnya dia?” Zoro bertanya sambil menunjuk Nami.

 

“Oh. Zoro, ini Nami, navigator sewaan kita. Nami, ini Zoro, Kru pertamaku.” Luffy berkata pada mereka berdua.

 

“Zoro? Tunggu, maksudmu Pirate Hunter Zoro?” Nami bertanya ketika dia memandang Zoro, sekarang baru menyadari tiga pedangnya. “Kenapa Pemburu Bajak Laut bergabung dengan kru bajak laut?”

 

“Aku sudah berhenti berburu bajak laut. Jadi kau navigator baru kami huh?”

 

“Hanya untuk sementara. Jadi, apa rencanamu sekarang Luffy? Kita masih perlu mendapatkan map itu dan harta Buggy.” Nami bertanya pada Luffy.

 

“Rencana B. Kiati mengalahkan mereka semua dan mengambilnya dengan paksa.” kata Luffy tersenyum, mendapatkan tinju lain di wajahnya.

 

“Rencana macam apa itu ?!” Nami berteriak.

 

“Terdengar bagus untukku.” Zoro berkata sambil tersenyum.

 

“Kalian berdua gila!” Nami berteriak, menyebabkan Luffy tertawa lagi sebelum dia melihat seekor anjing kecil di dekatnya.

 

“Hei, seekor anjing!” kata Luffy sambil berjalan ke sana, tersenyum ketika dia mengingatnya anjing ini. Luffy duduk di depan anjing itu sementara Zoro dan Nami berjalan mendekatinya juga.

 

“Apa yang dilakukan anjing di sini?” Nami bertanya.

 

“Tidak tahu, tidak peduli.” Zoro berkata dengan nada bosan ketika Luffy mulai menusuk anjing itu, membuatnya menggigit wajah Luffy.

 

“Lepaskan aku!” Luffy berteriak ketika dia mencoba menarik anjing itu dari wajahnya.

 

“Tinggalkan Chou Chou sendiri!” teriak seorang lelaki tua yang mengenakan baju besi buatan. Semua menatapnya ketika dia berjalan ke dalam gedung selama beberapa saat sebelum keluar dengan membawa semangkuk makanan untuk Chou Chou. Setelah perkenalan singkat, mereka bertiga mengetahui bahwa pria tua itu adalah walikota kota ini. Ketika mereka bertanya di mana semua orang berada, dia menjelaskan bahwa mereka pergi karena takut pada Buggy dan bajak lautnya. Hanya Chou Chou yang tetap bertahan meskipun berbahaya untuk menjaga toko.

 

“Kenapa tinggal di toko? Siapa yang memiliki tempat ini?” Zoro bertanya.

 

“Seorang temanku,” kata walikota sambil merokok melalui pipanya sebelum menambahkan ” dan juga pemilik Chou Chou.” Dia kemudian menjelaskan bagaimana temannya pergi ke rumah sakit karena sakit, tetapi meninggal tiga bulan lalu. Ketika mereka bertanya apakah dia masih menunggu tuannya kembali, walikota meragukannya, mengatakan bahwa Chou Chou cukup pintar untuk mengetahui tuannya sudah pergi. Dia juga memberi tahu mereka alasan Chou-Chou tetap menjaga toko ini karena hanya itu yang tersisa dari tuannya. “Untuk Chou Chou, toko ini adalah hartanya.”

 

Zoro hanya bisa mengagumi keberanian anjing itu. Nami tersenyum sedih memikirkan kehilangan seseorang yang kau sayangi. Luffy sudah pernah mendengar ini sebelumnya, tetapi masih menyukai bagaimana Chou Chou tetap berjuang untuk harta karunnya. Semua orang berhenti berbicara ketika mereka mendengar raungan singa di kejauhan.

 

“Oh tidak!” seru Walikota Boodle. “Itu Mohji, penjinak binatang! Kita harus lari!” dia berteriak lalu  meraih lengan Nami dan melarikan diri, menyeretnya. Luffy dan Zoro tetap tinggal untuk melawan Mohji.

 

 “Sebelum siapa pun itu yang datang ke sini tiba, aku harus bertanya.” Kata Zoro tanpa menatap Luffy. “Bagaimana kau bisa selamat dari meriam itu? Dan jangan mengatakan karena itu lemah. Aku melihat apa yang kau lakukan sebelum Bola itu mengenaimu.” Luffy memandang Zoro dari sudut matanya. “Tepat sebelum meriam itu ditembakkan, aku melihat bagian berubah tubuhmu menjadi hitam. Warnanya sama dengan rambutmu, dan ketika Morgan menyerangmu dengan kapaknya sebelum hancur. Apa itu?”

 

“Aku akan menjelaskannya nanti.” Luffy berkata ketika dia melihat ke depan dan melihat singa besar dengan bulu hijau dan surai ungu mendatangi mereka. Di atasnya adalah Mohji the Beast Tamer. Luffy tidak akan membiarkan mereka membakar harta Chou Chou kali ini. Mereka berdua menyaksikan ketika Richie singa mendekat ke arah mereka. Dia berhenti beberapa meter jauhnya sementara Mohji menatap mereka berdua.

 

“Well well, lihat siapa yang kita miliki di sini.” kata Mohji dengan nada sombong. “Topi jerami yang menghina kaptenku dan temannya pendekar pedang. Senang sekali menemukan kalian berdua.”

 

“Ada apa dengan topi aneh itu?” Zoro bertanya dengan nada bosan.

 

“Tidak sopan!” Mohji berteriak ketika dia menunjuk kepalanya, yang tampak seperti beruang dengan telinga di bagian atas. “Ini alami!” kata Mohji.

 

“Itu aneh sekali.” Kata Luffy. Mohji kembali ke sikapnya yang tenang ketika dia turun dari Richie, menjelaskan siapa dia dan bahwa dia bisa menjinakkan binatang apa pun di luar sana. Dia berjalan dan menyuruh Chou Chou untuk bergoyang, yang berakhir dengan anjing itu menggigit lengannya, membuatnya menggoyang-goyangkan tangannya sambil menjerit kesakitan.

 

Dia kemudian bersikap seperti tidak ada yang terjadi ketika dia menatap mereka dengan tenang sekali lagi. “Anyway, beritahu aku dimana temanmu yang berambut oranye itu dan aku akan membuat kematian kalian cepat.”

 

“Tidak.” kata mereka berdua, tak satu pun dari mereka terdengar takut.

 

“Baik! Bunuh mereka Richie!” Mohji memerintahkan ketika dia melompat turun dari singanya. Mereka menyaksikan ketika Richie menerjang mereka, hanya untuk dihentikan oleh pedang Zoro yang masih di sarungnya. Richie tterdorong mundur sebelum menggelengkan kepalanya dan menggeram pada mereka berdua.

 

“Aku bisa menghadapi ini Luffy.” Kata Zoro sambil berjalan menuju singa, mengeluarkan pedangnya. Mohji memandang pendekar pedang itu sebelum dia melihat dia memiliki tiga pedang.

 

“Tunggu sebentar. Apakah kau Pirate Hunter Zoro?” Mohji bertanya.

 

“Ya. Sekarang aku bajak laut.” katanya sambil mengikat bandana di kepalanya.

 

“Tunggu. Kalian berdua bajak laut?” dia bertanya sebelum tertawa. “Hanya kalian berdua? Itu hebat!”

 

“Diam dan bertarung.” Zoro berkata sebelum meletakkan Wado ke mulutnya dan pedangnya yang lain di tangannya, bersiap untuk bertarung. Luffy hanya berdiri di samping Chou Chou untuk menonton. Zoro berjongkok di posisinya yang biasa. “Oni …,” katanya sebelum berlari ke arah Richie. “GIRI!” Dan seperti itu, singa itu jatuh, dikalahkan dengan sayatan di perutnya. Mohji dengan cepat berhenti tertawa dan mulai berteriak.

 

“RICHIE!” dia berteriak sebelum melihat ke arah mereka berdua dengan marah. “Kau akan membayar untuk ini!” katanya sambil mengeluarkan cambuk dan mencambuk ke arah Zoro. Zoro mulai menghindari cambuk ke kiri dan ke kanan sebelum menggunakan lengannya supaya cambuk itu terlilit di tangannya. “Kena kau.” Mohji berkata sambil menyeringai, namun seringai itu terhapus ketika Zoro tersenyum jahat padanya.

 

“Apakah itu benar?” kata Zoro sambil meraih cambuk itu dan menariknya dengan keras, menarik Mojhi ke arahnya. Mojhi terbang ke arahnya berteriak sebelum dia dipukul menembus sebuah rumah karena pukulan Zoro. “Apakah cuma itu saja?” Zoro bertanya dengan nada bosan. Luffy hanya tersenyum ketika dia melihat Zoro melawan mereka berdua.

 

“Kerja bagus, Zoro.” katanya, mengetahui bahwa harta anjing kecil itu aman kali ini. “Sekarang saatnya kita menghajar yang lainnya. Tapi pertama-tama, kita harus mencari Nami.” Dia kemudian mulai berjalan ke arah nami dan mayor pergi, tetapi berhenti dan memerintahkan Zoro untuk membawa Mohji dan Riche untuk memastikan mereka tidak menyerang anjing itu lagi. Zoro hanya mengangkat bahunya, dia kembali dan menyeret mereka berdua di tanah.

 

[Sebelumnya] [Daftar isi] [Selanjutnya]

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *